Tentang

 Pada tahun 2019, Sahabat Kapas mengadakan pelatihan photostory untuk remaja peserta konseling kelompok tentang pencegahan kekerasan berbasis gender di LPKA Kutoarjo dan LPKA Yogyakarta. Pembuatan photostory ini bertujuan untuk mendokumentasikan perubahan perilaku pada remaja selama atau setelah mengikuti sesi konseling.


Konseling kelompok ini diikuti oleh para remaja di LPKA yang mempunyai pengalaman kekerasan, aktif dalam aktivitas seksual, dan bersedia secara sukarela mengikuti konseling rutin selama 3 bulan. Selama sesi konseling, mereka merespon baik aktivitas yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan ini. Perlahan, muncul perubahan positif baik pada pemahaman maupun sikap para peserta. Perubahan positif inilah yang ingin didokumentasikan dalam pelatihan photostory Sahabat Kapas.  


Dalam pelatihan ini, para peserta dimentori oleh fotografer profesional untuk membuat karya dalam bentuk foto dan narasi singkat yang menceritakan perubahan yang mereka rasakan. Karya- karya ini kemudian dipamerkan melalui website ini dengan tetap menjaga privasi dan identitas pembuatnya.


Pendokumentasian perubahan positif perilaku remaja ini merupakan inisiatif yang penting. Selain dapat menjadi refleksi bagi para peserta pelatihan, karya-karya mereka juga diharapkan bisa menjadi media kampanye tentang upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi kekerasan remaja.


Ada dua pesan utama dari kegiatan ini. Pesan pertama mengenai kesadaran bahwa satu kekerasan akan menciptakan kekerasan yang lain. Seorang remaja yang sering mengalami kekerasan, baik fisik maupun verbal, cenderung akan memendam rasa marah yang bisa menumbuhkan kebencian mendalam. Apabila remaja tidak memiliki kemampuan kontrol diri yang baik ketika sedang mengalami konflik, kebencian yang ia pendam berpotensi mendorong mereka melakukan kekerasan lain sebagai pelampiasan emosi. Siklus kekerasan seperti ini harus dihentikan agar tidak menimbulkan kekerasan baru yang lain. 


Pesan kedua dalam pelatihan ini adalah bahwa berani menyampaikan pemikiran adalah langkah awal yang baik dalam menyelesaikan masalah. Ketika dihadapkan pada sebuah masalah dengan orang lain, banyak remaja yang memilih diam dan enggan mengkomunikasikan perasaan mereka. Ini mengakibatkan suara dan emosi mereka tidak tersalurkan. Konsekuensinya, mereka akan mencari cara lain untuk menyalurkan dua hal tersebut seperti minum minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, serta penyaluran negatif lainnya. Orang lain pun tidak bisa mengetahui apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Konseling kelompok melatih para remaja untuk menjadi asertif, yakni berani serta percaya diri mengemukakan pendapat dan perasaan mereka. Ketika mereka mampu menyampaikan pemikiran mereka secara terbuka, peluang komunikasi dua arah untuk menyelesaikan masalah menjadi semakin tinggi serta impuls negatif bisa terhindarkan.


Akhirnya, pameran photostory ini merupakan bentuk ekspresi nyata perjuangan para remaja peserta konseling di LPKA untuk berubah. Perjalanan mereka tidak mudah. Selain harus belajar dan beradaptasi dengan cara pikir dan kebiasaan baru, mereka juga harus mampu menahan diri dari godaan negatif yang mengintai di sekitar mereka. Selamat untuk para peserta konseling kelompok di LPKA Kutoarjo dan Yogyakarta. Persembahan ini untuk kalian semua. Salut dan salam hormat.

Didukung Oleh